Di pesisir Desa Labuhan Haji, Lombok Timur, rumput laut cokelat bernama sargassum datang mengikuti musim. Warga setempat mengenalnya sebagai “boyot” atau “beboyot”. Bertahun-tahun, tumpukan yang terdampar di pantai lebih sering dipandang sebagai gangguan: membuat pantai terlihat kotor, menghambat aktivitas, dan ketika terlalu lama menumpuk menimbulkan bau yang tidak nyaman.
Tidak jauh dari pantai, petani menghadapi persoalan yang berbeda. Biaya input pertanian terus menjadi beban, sementara pupuk, insektisida, dan fungisida kimia masih menjadi bagian penting dalam budidaya. Bagi petani, mencari alternatif yang lebih terjangkau dan dapat dibuat dari sumber daya lokal bukan perkara sederhana.
Dari dua persoalan itulah sebuah perubahan mulai dirintis. Lombok Research Center (LRC) menjalankan proyek “Pemanfaatan Biostimulan dari Sargassum dalam Pertanian Berkelanjutan di Desa Labuhan Haji” selama Februari–Juli 2026. Melalui Program Inovasi Hijau yang didukung Uni Eropa dan Yayasan Penabulu, program ini mencoba mempertemukan potensi pesisir dengan kebutuhan petani: sargassum yang selama ini dianggap limbah diperkenalkan sebagai bahan baku biostimulan, sementara masyarakat dilibatkan untuk belajar mengumpulkan, mengolah, menggunakan, dan menilai manfaatnya di lapangan.
Perubahan Pertama Terjadi pada Cara Pandang
Pada awal program, tantangan utamanya bukan hanya soal teknologi. Sebagian masyarakat belum melihat sargassum sebagai bahan bernilai ekonomi. Petani juga telah lama terbiasa menggunakan input kimia sehingga adopsi bahan baru membutuhkan bukti, bukan sekadar penjelasan.
LRC memulai dengan membangun pemahaman bersama. Pada 11 April 2026, 25 nelayan dan masyarakat pesisir mengikuti pelatihan pemanfaatan sargassum. Peserta belajar bahwa kualitas bahan baku sangat dipengaruhi oleh cara penanganannya—mulai dari sortasi, pencucian dengan air tawar, penirisan, penggunaan alas saat penjemuran, hingga pengeringan yang cukup.
Pembelajaran tersebut penting karena praktik sebelumnya belum selalu menjaga kualitas sargassum. Bahan kadang dijemur langsung di atas pasir atau dijual ketika masih memiliki kadar air tinggi. Akibatnya, sargassum bercampur kotoran dan nilai jualnya menurun. Dari pelatihan itu, masyarakat mulai memahami bahwa bahan yang selama ini hanya dikumpulkan dari pantai dapat memiliki nilai berbeda ketika ditangani dengan standar yang lebih baik.
Mekanisme awal kelompok pengumpul pun mulai dibangun dengan seorang koordinator masyarakat sebagai penghubung antara warga dan pihak yang membutuhkan bahan baku, termasuk Zentide sebagai mitra teknologi. Perubahan sederhana ini menggeser posisi sargassum: dari sesuatu yang harus disingkirkan menjadi bahan yang layak dikumpulkan dan dijaga kualitasnya.
Petani Tidak Hanya Diberi Materi, tetapi Ruang untuk Membuktikan
Tahap berikutnya membawa inovasi dari pesisir menuju lahan. Pada 28 April 2026, petani konvensional mengikuti pelatihan pemanfaatan biostimulan dan bioinsektisida. Mereka mendiskusikan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari, termasuk meningkatnya biaya insektisida dan fungisida serta tantangan hama dan penyakit tanaman.
Program tidak memosisikan biostimulan sebagai pengganti seluruh pupuk atau sebagai pestisida yang langsung membunuh hama. Petani diperkenalkan pada fungsinya sebagai input pendukung pertumbuhan dan kondisi fisiologis tanaman. Mereka juga belajar membuat bahan pengendali lokal menggunakan daun imbe dengan peralatan sederhana yang dapat ditemukan di rumah tangga.
Pada 14 Mei 2026, proses belajar dipindahkan ke lahan demplot. Petani mempraktikkan pengolahan sargassum, mulai dari pembersihan bahan, ekstraksi, pengenceran, hingga aplikasi pada tanaman. Bersama tenaga ahli dari LRC dan Universitas Mataram, petani juga dilatih untuk tidak langsung menyemprot ketika melihat daun rusak, tetapi terlebih dahulu mengamati apakah gejalanya berasal dari hama, penyakit, kekurangan nutrisi, atau kondisi lingkungan.
Pendekatan ini menjadi bagian penting dari perubahan. Yang dipelajari petani bukan hanya cara menggunakan produk baru, tetapi juga kebiasaan untuk mengamati tanaman dan menentukan tindakan berdasarkan kondisi yang mereka temukan.
Pahminuddin: Mengurangi Ketergantungan Secara Bertahap
Bagi Pahminuddin, salah satu petani yang mengikuti proses pendampingan, pelatihan membuka cara pandang baru terhadap bahan yang selama ini tersedia di sekitar desa. Ia mulai memahami bahwa sargassum dapat diolah menjadi bagian dari praktik pertanian yang lebih aman dan bahwa pengurangan ketergantungan pada input kimia dapat dimulai secara bertahap.
“Setelah mengikuti pelatihan dari LRC, kami mulai memahami bahwa sargassum ternyata bisa menjadi pestisida nabati yang lebih aman. Perlahan kami dapat mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia sehingga biaya produksi juga berpotensi berkurang. Harapan saya, petani semakin mandiri dan tidak lagi bergantung pada input pertanian yang dapat merugikan kesehatan,” tutur Pahminuddin.
Pengalaman Pahminuddin menunjukkan bahwa perubahan perilaku petani tidak terjadi karena satu kali pelatihan. Dibutuhkan kesempatan untuk mencoba, mengamati, bertanya, dan membandingkan hasilnya dengan praktik yang telah lama mereka gunakan.
Pendampingan Membuat Petani Tidak Berjalan Sendiri
Setelah praktik di demplot, LRC melanjutkan pendampingan melalui kunjungan lapangan, monitoring berkala, dan komunikasi melalui grup WhatsApp. Petani dapat menyampaikan kendala, mendiskusikan dosis dan waktu aplikasi, serta memperlihatkan perkembangan tanaman dari waktu ke waktu.
Anwar, petani lain di Labuhan Haji, menilai pendampingan itulah yang membuat proses mencoba teknologi baru terasa lebih aman. Petani tidak dilepas setelah pelatihan selesai, tetapi ditemani sejak penanaman hingga pemeliharaan tanaman.
“Kami tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga didampingi sejak mulai menanam sampai pemeliharaan tanaman. Pendampingan ini membuat kami lebih yakin mengurangi penggunaan pestisida kimia. Harapannya, pertanian di desa kami semakin sehat, ramah lingkungan, dan memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat,” ungkap Anwar.
Pada monitoring pertama, petani melaporkan sejumlah respons positif. Pada cabai dan tomat, daun terlihat lebih hijau, bunga dinilai tidak mudah rontok, dan perakaran lebih kuat. Pada mentimun, pembentukan buah terlihat lebih seragam, sedangkan pada padi dan jagung batang tampak lebih kokoh dan pertumbuhan awal lebih baik. LRC tetap mencatat bahwa pengaruh terhadap hasil panen masih perlu diamati sampai akhir siklus budidaya.
Dari Tanaman yang Lebih Segar ke Nilai Baru di Pesisir
Bagi M. Hariyono, manfaat program mulai terlihat langsung pada tanaman yang ia rawat. Pengalaman tersebut membuat inovasi berbasis sargassum tidak lagi hanya menjadi materi dari ruang pelatihan.
“Saya merasakan langsung manfaat program ini. Pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik setelah menggunakan biostimulan berbahan dasar sargassum. Yang lebih membanggakan, sargassum yang dulu hanya menumpuk di pesisir kini memiliki nilai ekonomi karena sudah ada perusahaan yang siap membeli. Selain membantu petani, program ini juga membuka peluang tambahan penghasilan bagi masyarakat,” ujarnya.
Cerita dampak LRC juga mencatat bahwa sebagian perempuan mulai terlibat dalam pengumpulan dan penanganan sargassum, sementara kelompok perempuan secara lebih luas dilibatkan dalam pengolahan dan pengemasan. Bagi desa pesisir, rantai ini membuka kemungkinan baru: bahan yang datang bersama ombak dapat menghubungkan nelayan dan masyarakat pesisir sebagai penyedia bahan baku, kelompok pengolah, petani sebagai pengguna, serta mitra teknologi dan pasar.
Dampak Tidak Berhenti pada Satu Kelompok
Selama pelaksanaan, laporan akhir mencatat 124 penerima manfaat langsung dan 230 penerima manfaat tidak langsung. Mereka berasal dari kelompok tani, nelayan, perempuan, pemuda, perangkat desa, dan masyarakat pesisir. Namun angka tersebut hanya memberi gambaran skala. Perubahan yang lebih penting terlihat pada hubungan baru yang mulai terbentuk di antara mereka.
Kelompok nelayan dan masyarakat pesisir belajar menangani sargassum sebagai bahan baku. Petani menguji penggunaannya di lahan. Kelompok perempuan terlibat dalam pengolahan. Pemuda dan mahasiswa mendukung pendampingan, dokumentasi, dan penyebarluasan informasi. Pemerintah Desa Labuhan Haji, Universitas Mataram, dan Zentide mengambil peran berbeda dalam menjaga agar proses tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan.
Kolaborasi itu juga diperkuat melalui nota kesepahaman antara LRC dan Pemerintah Desa Labuhan Haji. Bagi program, dukungan lokal menjadi penting karena keberlanjutan pemanfaatan sargassum bergantung pada kemampuan masyarakat menjaga ketersediaan bahan baku, mutu pengolahan, kapasitas petani, dan jaringan pasar setelah masa hibah berakhir.
Harapan yang Datang Bersama Ombak
Program ini belum menyelesaikan seluruh persoalan. Ketersediaan sargassum tetap bergantung pada musim dan kondisi perairan. Mutu produksi antarkelompok masih perlu distandarkan. Penerapan biostimulan juga membutuhkan pendampingan dan pengamatan lebih panjang untuk melihat hasil pada seluruh siklus budidaya.
Namun perubahan awalnya sudah terlihat: warga mulai melihat sargassum dengan cara yang berbeda, petani memiliki pengalaman menggunakan input berbasis sumber daya lokal, dan hubungan antara pesisir dengan pertanian mulai terbentuk dalam satu rantai solusi.
Di Labuhan Haji, sargassum tidak berubah menjadi sumber daya karena bendanya tiba-tiba berbeda. Yang berubah adalah cara masyarakat memandang, mengelola, dan menghubungkannya dengan kebutuhan desa. Dari pantai yang dulu dipenuhi “sampah kiriman”, tumbuh kemungkinan baru bahwa lingkungan yang lebih bersih, pertanian yang lebih sehat, dan peluang ekonomi lokal dapat bergerak dalam arah yang sama.
Harapan itu tidak datang dari tempat yang jauh. Ia datang bersama ombak, terdampar di depan mata, lalu menemukan makna baru ketika masyarakat diberi ruang untuk belajar dan membuktikannya sendiri.