Lombok Research Center (LRC) memulai program pemanfaatan rumput laut Sargassum sebagai biostimulan pertaniandi Desa Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan solusi lokal yang menghubungkan potensi sumber daya pesisir dengan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Program tersebut dilaksanakan dengan dukungan Uni Eropa melalui program CO-EVOLVE 2, bersama Yayasan Penabulu, Lokadaya, dan LOKADANA. Dalam daftar penerima dukungan LOKADANA, Lombok Research Center tercatat sebagai penerima Hibah Inovasi Hijau untuk program “Pemanfaatan Biostimulan dari Sargassum dalam Pertanian Berkelanjutan di Desa Labuhan Haji.”

Melalui program ini, Sargassum yang tersedia di kawasan pesisir tidak hanya dipandang sebagai material laut, tetapi dikembangkan menjadi bahan yang memiliki manfaat bagi sektor pertanian. Pemanfaatannya diarahkan untuk membantu petani menerapkan praktik budidaya yang lebih berkelanjutan sekaligus membuka peluang pengembangan nilai ekonomi dari sumber daya lokal.

Menghubungkan Potensi Pesisir dan Pertanian

Sargassum merupakan salah satu jenis rumput laut cokelat yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam sektor pertanian. Kementerian Kelautan dan Perikanan juga mencantumkan Sargassum sebagai salah satu bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi produk untuk pupuk dan biostimulan.

Di Labuhan Haji, pemanfaatan tersebut dikembangkan melalui pendekatan berbasis komunitas. LRC mendampingi masyarakat dalam mengolah Sargassum menjadi biostimulan pertanian dengan tujuan mendukung peningkatan produktivitas sekaligus mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Program ini sekaligus mencoba membangun keterhubungan antara masyarakat pesisir, petani, dan komunitas desa. Dengan demikian, potensi yang berasal dari wilayah laut dapat memberikan manfaat yang lebih luas hingga ke sektor pertanian.

Mendorong Inovasi Hijau dari Tingkat Lokal

Pemanfaatan Sargassum menjadi bagian dari Program Inovasi Hijau LRC yang berlangsung pada 2026 di Kabupaten Lombok Timur.

Program tersebut berfokus pada ekonomi hijau, pertanian berkelanjutan, pemanfaatan potensi lokal, serta respons terhadap perubahan iklim. Pendekatannya mencakup pengembangan solusi lingkungan, inovasi lokal, pemberdayaan komunitas, dan penguatan kapasitas masyarakat dalam mengadopsi praktik yang lebih berkelanjutan.

Dalam pendekatan ini, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat. Komunitas didorong untuk terlibat dalam pengembangan dan penerapan inovasi berdasarkan sumber daya serta persoalan yang ditemukan di wilayah mereka sendiri.

Cara kerja tersebut menjadi penting karena solusi terhadap persoalan lingkungan dan pertanian tidak selalu harus datang dari teknologi berskala besar. Potensi yang tersedia di tingkat lokal dapat dikembangkan melalui pengetahuan, percobaan, dan penguatan kapasitas masyarakat.

Dari Rumput Laut Menuju Lahan Pertanian

Pemanfaatan Sargassum sebagai biostimulan membuka kemungkinan untuk mempertemukan dua sektor yang selama ini sering berjalan terpisah: kelautan dan pertanian.

Rumput laut yang berasal dari wilayah pesisir dapat diolah menjadi bahan pendukung pertumbuhan tanaman. Di sisi lain, pengembangannya dapat membuka alternatif pemanfaatan Sargassum sehingga memiliki nilai yang lebih besar bagi masyarakat.

Dalam profil programnya, LRC menyebut pendampingan masyarakat Labuhan Haji diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian ramah lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi lokal melalui rantai nilai yang menghubungkan nelayan, petani, dan komunitas desa.

Pendekatan tersebut membuat inovasi biostimulan tidak hanya berkaitan dengan produk akhir, tetapi juga dengan bagaimana manfaat ekonomi dan pengetahuan dapat berputar di tingkat lokal.

Pengetahuan Diperkuat melalui Pelatihan dan Pendampingan

Program tidak berhenti pada pengenalan pemanfaatan Sargassum. LRC juga menjalankan rangkaian pembelajaran di lapangan untuk memperkuat pengetahuan masyarakat mengenai pengolahan dan penggunaannya.

Dokumentasi program menunjukkan adanya pelatihan Sargassum di Labuhan Haji pada April 2026, dilanjutkan kegiatan mengenai pemanfaatan limbah laut, pelatihan biostimulan pada Mei, serta monitoring dan evaluasi program pada Juni 2026.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan inovasi dilakukan melalui proses bertahap—mulai dari pengenalan potensi, peningkatan kapasitas, penerapan di lapangan, hingga pemantauan hasil.

Dengan proses semacam ini, pengetahuan mengenai teknologi tidak hanya berada pada organisasi pelaksana, tetapi dapat berkembang menjadi keterampilan yang dimiliki masyarakat.

Mendukung Transisi Hijau dari Desa

Program pemanfaatan biostimulan Sargassum juga menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendorong transisi hijau yang adil dan inklusif.

CO-EVOLVE 2 diarahkan untuk memperkuat organisasi masyarakat sipil agar semakin mampu mengembangkan solusi lokal melalui peningkatan kapasitas, jejaring, dan kolaborasi.

Dalam konteks Labuhan Haji, tujuan tersebut diterjemahkan menjadi inovasi yang berangkat dari sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat.

Ketika Sargassum dapat diolah menjadi bahan yang bermanfaat bagi pertanian, sumber daya pesisir memperoleh nilai baru. Pada saat yang sama, petani mendapat kesempatan untuk mengenal praktik budidaya yang lebih berkelanjutan.

Inisiatif ini memperlihatkan bagaimana potensi lokal, inovasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan. Dari pesisir menuju lahan pertanian, Sargassum menjadi salah satu contoh bagaimana sumber daya lokal dapat dikembangkan untuk mendukung ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat praktik pembangunan yang lebih berkelanjutan.

 

Sumber :

LRCFoundation

LumbungInovasi

Pot Hibah Darurat Lokadana

Dukung OMS dan Komunitas dalam menghadapi krisis mendesak agar layanan penting tetap berjalan.

Informasi Rekening

  • Nama Bank: Mandiri
  • Nomor Rekening: 1660039992888
  • Atas Nama: Yayasan Jejaring Lokadaya Nusantara

 

Setiap kontribusi berarti menjaga komunitas tetap bertahan di tengah situasi darurat.