Keterbatasan air tidak menghentikan petani di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lombok Timur, untuk tetap mengolah lahan pada musim kemarau. Sejumlah petani muda mulai menerapkan sistem irigasi tetes untuk menanam sayuran dan palawija dengan penggunaan air yang lebih efisien.

Teknologi sederhana ini menjadi alternatif bagi lahan pertanian yang selama ini sangat bergantung pada curah hujan. Air dialirkan secara perlahan langsung menuju area perakaran tanaman melalui jaringan pipa dan selang kecil, sehingga kelembapan tanah dapat dipertahankan tanpa membutuhkan penyiraman dalam jumlah besar.

Berawal dari Persoalan Air di Musim Kemarau

Wilayah Suela memiliki banyak lahan pertanian kering. Ketika memasuki musim kemarau, ketersediaan air menjadi salah satu persoalan utama yang memengaruhi produktivitas petani.

Sebelum menggunakan irigasi tetes, sebagian lahan lebih banyak dimanfaatkan untuk tanaman seperti jagung dan tembakau saat kondisi air memungkinkan. Dengan penerapan sistem baru tersebut, petani mulai mencoba menanam cabai dan tomat pada musim kemarau.

Salah seorang petani setempat, Yonk (42), mengatakan gagasan menggunakan irigasi tetes berkembang setelah para petani mengikuti pelatihan pertanian lahan kering serta mencari berbagai referensi melalui media sosial.

Menurutnya, keterbatasan air tidak selalu berarti kegiatan pertanian harus berhenti. Air yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan lebih tepat ketika dialirkan langsung menuju tanaman.

Teknologi Sederhana yang Bisa Diterapkan Petani

Sistem yang digunakan petani Ketangga relatif sederhana.

Sebuah tandon air ditempatkan pada posisi sekitar satu meter lebih tinggi dari lahan. Air dari tandon kemudian dialirkan melalui pipa utama menuju selang-selang kecil yang dipasang mengikuti barisan tanaman.

Dari jaringan tersebut, air keluar secara perlahan di sekitar akar. Cara ini membantu menjaga tanah tetap lembap sekaligus mengurangi air yang terbuang karena penguapan ataupun aliran di permukaan tanah.

Petani juga mengembangkan sistem tersebut secara swadaya, termasuk dalam penyediaan peralatan irigasi yang digunakan di kebun.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa teknologi pertanian adaptif tidak selalu harus berangkat dari perangkat yang kompleks. Modifikasi sederhana yang sesuai kondisi setempat dapat membantu petani mengatasi keterbatasan sumber daya.

Lahan Kering Kembali Bisa Dimanfaatkan

Salah satu perubahan yang dirasakan petani adalah terbukanya kesempatan untuk memanfaatkan lahan pada periode ketika air semakin terbatas.

Lahan yang sebelumnya kurang produktif pada musim kemarau kini dapat digunakan untuk membudidayakan tanaman hortikultura seperti cabai dan tomat. Petani juga dapat mengatur pemberian air dengan lebih terukur sesuai kebutuhan tanaman.

Penggunaan air yang lebih efisien menjadi penting bagi wilayah yang pertaniannya masih banyak bergantung pada hujan. Dengan menjaga produktivitas lahan pada musim kering, teknologi ini sekaligus membuka peluang untuk memperpanjang masa tanam petani.

Jurnalis Warga Ikut Mengampanyekan Irigasi Tetes

Pengembangan irigasi tetes di Suela tidak hanya berlangsung di tingkat petani. Jurnalis warga perempuan dan konten kreator yang tergabung dalam aktivitas Speaker Kampung turut menggunakan kebun warga sebagai lokasi percontohan untuk memperkenalkan praktik tersebut melalui media sosial dan media alternatif.

Ketua Media Speaker Kampung, Hajad Guna Roasmadi, menjelaskan bahwa lahan pertanian warga dimanfaatkan sebagai ruang praktik sekaligus sarana kampanye agar pengalaman penerapan irigasi tetes dapat diketahui oleh masyarakat yang lebih luas.

Upaya ini membuat praktik pertanian yang dilakukan warga tidak hanya berhenti sebagai pengalaman individual. Pengetahuan dari kebun dapat didokumentasikan, disebarluaskan, dan menjadi contoh yang bisa dipelajari petani lain dengan kondisi lahan serupa.

Didorong untuk Menjangkau Lebih Banyak Petani

Kepala Dusun Monek, Rasid Ridoh, mengapresiasi penerapan teknologi tersebut. Menurutnya, wilayah setempat tidak memiliki sistem irigasi teknis dari bendungan dan selama ini masih banyak bergantung pada air hujan. Kehadiran irigasi tetes memberikan alternatif yang dapat dicoba oleh petani di lahan kering.

Ia juga mendorong agar praktik tersebut diperkenalkan kepada warga lain, khususnya mereka yang memiliki lahan kering, sehingga lahan tetap dapat memberikan manfaat pada saat pasokan air terbatas.

Inisiatif di Suela memperlihatkan bagaimana teknologi tepat guna, pembelajaran petani, dan penyebaran pengetahuan melalui media komunitas dapat bertemu dalam satu upaya menghadapi persoalan pertanian di tingkat lokal.

Dari tetesan air yang dialirkan langsung menuju tanaman, petani Ketangga menunjukkan bahwa lahan kering masih dapat memiliki peluang untuk tetap produktif. Praktik ini sekaligus membuka ruang bagi pengembangan pertanian yang lebih hemat air dan adaptif terhadap perubahan musim.

Sumber : Tribun Lombok

Pot Hibah Darurat Lokadana

Dukung OMS dan Komunitas dalam menghadapi krisis mendesak agar layanan penting tetap berjalan.

Informasi Rekening

  • Nama Bank: Mandiri
  • Nomor Rekening: 1660039992888
  • Atas Nama: Yayasan Jejaring Lokadaya Nusantara

 

Setiap kontribusi berarti menjaga komunitas tetap bertahan di tengah situasi darurat.