Jejak Perubahan

Ketika Tengkawang Kembali Bernilai: Menghidupkan Ekonomi, Menjaga Hutan Adat

Di Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, buah tengkawang pernah hampir kehilangan tempat dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Selama belasan tahun, buah dari pohon-pohon yang tumbuh di tembawang dan kawasan hutan adat tidak lagi dipanen seperti dulu. Harga jatuh dan pembeli menghilang.

Bagi Fransiscus Veran, warga Aruk, keadaan itu membuat sebagian masyarakat mulai melihat pohon tengkawang sebagai tanaman yang tidak lagi memiliki nilai ekonomi.

“Banyak pohon tengkawang milik masyarakat ditebang untuk keperluan bangunan karena mereka menganggap buah tengkawang sudah tidak berharga lagi. Yang masih bertahan hanya pohon-pohon yang berada di kawasan hutan adat dan tembawang,” tuturnya.

Namun pada musim panen 2026, cerita itu mulai bergerak ke arah berbeda. Veran kembali memanen tengkawang. Dari tembawang dan kawasan hutan adat di Aruk, sekitar 10 ton buah tengkawang berhasil ia panen bersama masyarakat.

Yang berubah bukan keberadaan tengkawang. Pohon-pohon itu telah tumbuh selama puluhan tahun. Yang mulai berubah adalah adanya kembali pasar, pengetahuan pengelolaan, dan alasan ekonomi untuk mempertahankan pohon tetap berdiri.

“Dengan adanya program ini, kami ingin mempertahankan dan menanam kembali pohon tengkawang agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Veran.

Perubahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan program Perlindungan Kawasan Hutan Adat Pikul dengan Peningkatan Ekonomi melalui Pengelolaan Buah Tengkawang, yang dijalankan Institut Riset dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan (INTAN) dengan dukungan LOKADANA.

Program ini berangkat dari Hutan Adat Pikul di Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, tetapi dampaknya kemudian menjangkau masyarakat adat di sejumlah wilayah lain.

Ketika Hutan Mendapat Nilai dari Pohon yang Tetap Berdiri

Tengkawang merupakan hasil hutan bukan kayu yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat. Buahnya dapat diolah menghasilkan lemak nabati atau illipe butter, yang dimanfaatkan antara lain sebagai bahan pangan, kosmetik, dan produk lainnya.

Namun memiliki pohon saja tidak otomatis memberikan penghidupan. Masyarakat membutuhkan pembeli, kemampuan menjaga kualitas hasil panen, fasilitas pengolahan, serta jalur yang menghubungkan produk mereka dengan pasar.

Di Hutan Adat Pikul, perubahan dimulai dari hal yang mendasar: memperbaiki cara panen dan membuka kembali jalan bagi buah tengkawang untuk memiliki nilai.

Pada Februari 2026, masyarakat mengikuti pelatihan pemanenan tengkawang secara organik dan berkelanjutan. Peserta tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga mempraktikkan teknik pemanenan dan pengolahan yang menjaga kualitas buah tanpa merusak pohon.

Pengetahuan tersebut kemudian bertemu dengan mekanisme pembelian.

Pada tahap awal, sebanyak 2.502 kilogram buah tengkawang basah kupas dibeli langsung dari sekitar 30 masyarakat adat di Hutan Adat Pikul dan tembawang keluarga. Harga pembelian ditetapkan Rp4.000 per kilogram, dengan pembayaran dilakukan setelah penimbangan.

Skema sederhana itu penting: masyarakat memperoleh kepastian bahwa buah yang mereka kumpulkan memiliki pembeli dan nilai.

Dari sana, kabar mengenai pembelian tengkawang menyebar.

Masyarakat adat dari wilayah lain yang masih memiliki pohon tengkawang mulai kembali memanen. INTAN dan Koperasi Produsen Tengkawang Layar kemudian membangun kerja sama dengan berbagai mitra agar hasil panen yang jauh melampaui kapasitas awal program tetap dapat ditampung.

Melalui perluasan jejaring tersebut, laporan program mencatat sekitar 120 ton buah tengkawang pada akhirnya dapat terserap dari masyarakat dalam berbagai bentuk, baik buah segar, buah kering, maupun melalui rantai pengolahan yang didukung sejumlah mitra.

Besarnya volume itu membawa pesan yang lebih penting daripada sekadar angka: ribuan pohon tengkawang kembali memiliki alasan ekonomi untuk tetap dipertahankan.

Dari Buah Mentah Menjadi Butter Tengkawang

Menghidupkan kembali panen baru menjadi satu bagian dari rantai perubahan.

Nilai tengkawang akan jauh lebih besar ketika masyarakat tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah. Karena itu, buah yang terkumpul kemudian masuk ke fasilitas pengolahan Koperasi Produsen Tengkawang Layar, yang dikelola bersama oleh masyarakat dan INTAN.

Di sana, buah melewati proses pengupasan, pengeringan, pengukuran kadar air, hingga pengolahan menjadi butter tengkawang.

Selama pelaksanaan program, sekitar 1,5 ton butter tengkawang berhasil diproduksi.

Proses tersebut juga membuka ruang kerja baru. Setiap hari, sekitar 12–15 tenaga kerja lokal terlibat bergantian dalam pengupasan, pengeringan, pengolahan, pengemasan, hingga penanganan produk.

Perempuan mengambil peran penting dalam rantai ini. Mereka terlibat mulai dari pengumpulan dan pemilahan buah hingga pengupasan, pengeringan, pengolahan, dan pengemasan produk akhir.

Bagi Rufina, anggota Masyarakat Hukum Adat Pikul, perubahan tersebut berarti dua pintu penghasilan sekaligus: ia dapat menjual hasil tengkawang dan memperoleh pekerjaan dalam proses pengolahannya.

“Saya sangat berterima kasih atas program ini karena memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman baru bagi kami. Selain dapat menjual buah tengkawang, saya juga memperoleh pekerjaan di pabrik pengolahan tengkawang yang dikelola oleh Koperasi Tengkawang Layar dan INTAN. Pendapatan tambahan tersebut sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.”

Cerita Rufina memperlihatkan bahwa nilai tambah tidak berhenti pada produk. Ketika proses pengolahan berada dekat dengan masyarakat, manfaat ekonomi juga dapat tinggal lebih lama di komunitas.

Butter yang dihasilkan kemudian diarahkan ke pasar domestik sekaligus jaringan pembeli dan vendor yang terhubung dengan pasar luar negeri. Dengan demikian, tengkawang bergerak dari lantai hutan, melewati tangan masyarakat, diolah di tingkat lokal, lalu menemukan konsumen yang lebih luas.

Ketika Memanen Juga Berarti Menjaga

Hubungan antara ekonomi dan konservasi menjadi bagian penting dari perubahan yang terjadi.

Ketika buah tidak lagi bernilai, menebang satu pohon dapat terlihat lebih menguntungkan daripada mempertahankannya. Sebaliknya, ketika pohon dapat menghasilkan pendapatan setiap musim panen, keberadaannya menjadi aset jangka panjang bagi keluarga.

Program ini mencoba menggeser insentif tersebut.

Masyarakat tidak diminta memilih antara mendapatkan penghasilan atau menjaga hutan. Justru hutan yang tetap berdiri menjadi sumber penghasilan.

Di tengah meningkatnya tekanan terhadap kawasan hutan dari penggunaan lahan lain, tengkawang menawarkan alternatif ekonomi yang tidak mengharuskan masyarakat menebang pohon untuk mendapatkan manfaat.

Perubahan itu mulai terlihat pula pada cara masyarakat memandang masa depan tengkawang.

Buah berkualitas tidak seluruhnya diarahkan untuk dijual. Sebagian dipilih menjadi benih. Pada 2026, sekitar 1.800 bibit tengkawang disiapkan untuk ditanam kembali di kawasan hutan adat dan wilayah kelola masyarakat.

Artinya, rantai yang dibangun tidak berhenti pada panen hari ini.

Sebagian hasilnya dikembalikan ke tanah agar generasi berikutnya masih memiliki pohon untuk dipanen.

Rumah Tengkawang: Membawa Hutan Lebih Dekat dengan Pasar

Masalah lainnya muncul setelah produk berhasil dibuat: bagaimana masyarakat bertemu pembeli?

Jarak antara komunitas di sekitar hutan dengan pasar perkotaan selama ini menjadi hambatan. Begitu pula keterbatasan informasi, promosi, dan jaringan usaha.

Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, program memperkuat Rumah Tengkawang sebagai hub pemasaran, edukasi, dan pertukaran pengetahuan.

Ruang ini mempertemukan produk masyarakat dengan konsumen, pelaku usaha, akademisi, mahasiswa, peneliti, dan pihak lain yang tertarik pada tengkawang.

Di Rumah Tengkawang, hasil hutan tidak hanya dipajang sebagai komoditas. Berbagai produk turunannya memperlihatkan kemungkinan yang lebih luas: butter, produk kosmetik, pangan, hingga inovasi lain berbasis tengkawang.

Rumah Tengkawang juga digunakan sebagai ruang pelatihan dan diskusi. Pengetahuan masyarakat adat bertemu dengan penelitian perguruan tinggi dan pengembangan produk modern.

Keterlibatan Fakultas Kehutanan dan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, bersama berbagai peneliti dan institusi lainnya, ikut memperluas pengetahuan mengenai potensi tengkawang untuk pangan, kesehatan, kosmetik, dan bidang lainnya.

Dengan cara itu, rantai nilai tengkawang tidak hanya menghubungkan hutan dengan pasar, tetapi juga pengetahuan tradisional dengan riset dan inovasi.

Perubahan yang Menular ke Wilayah Lain

Salah satu dampak yang tidak sepenuhnya diperkirakan sejak awal adalah munculnya kembali minat masyarakat adat di luar Hutan Adat Pikul untuk memanen tengkawang.

Program yang bermula dari satu kawasan kemudian mendorong komunitas dari sejumlah wilayah di Bengkayang, Sambas, dan daerah lain di Kalimantan Barat kembali melihat tengkawang sebagai sumber penghidupan.

Damianus Nadu, Ketua Masyarakat Hukum Adat Pikul, melihat perubahan itu sebagai salah satu capaian penting.

“Program ini juga merangsang masyarakat adat di wilayah lain untuk memanen tengkawang dan mendorong mereka menjaga kawasan hutan tengkawang yang mereka miliki,” ujarnya.

Perubahan tersebut menunjukkan efek yang lebih luas: ketika satu rantai ekonomi berhasil dibuka, manfaatnya dapat melampaui batas lokasi proyek.

Pembeli membutuhkan pasokan. Koperasi membutuhkan bahan baku. Komunitas lain memiliki pohon yang selama ini tidak dipanen. Dari hubungan itulah ekosistem yang lebih besar mulai terbentuk.

Menjaga Pohon karena Ada Masa Depan di Dalamnya

Cerita tengkawang di Hutan Adat Pikul menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu harus dimulai dengan melarang masyarakat memanfaatkan hutan.

Dalam kasus ini, justru pemanfaatan yang berkelanjutan membuat pohon semakin bernilai untuk dipertahankan.

Buah yang jatuh menghasilkan pendapatan. Pengolahan menciptakan pekerjaan. Butter memberikan nilai tambah. Rumah Tengkawang membuka akses pasar dan pengetahuan. Benih yang ditanam kembali memberi kesempatan agar siklus itu terus berlangsung.

Bagi masyarakat, perubahan tersebut berarti ada alasan baru—sekaligus alasan lama yang kembali ditemukan—untuk menjaga pohon tengkawang.

Dan bagi hutan adat, pohon yang tetap berdiri adalah bentuk perlindungan yang paling nyata.

Dari Hutan Adat Pikul hingga wilayah adat lain di Kalimantan Barat, tengkawang perlahan kembali menjalankan perannya: sebagai sumber penghidupan yang tumbuh tanpa harus mengorbankan hutan tempat kehidupan itu berasal.

Pot Hibah Darurat Lokadana

Dukung OMS dan Komunitas dalam menghadapi krisis mendesak agar layanan penting tetap berjalan.

Informasi Rekening

  • Nama Bank: Mandiri
  • Nomor Rekening: 1660039992888
  • Atas Nama: Yayasan Jejaring Lokadaya Nusantara

 

Setiap kontribusi berarti menjaga komunitas tetap bertahan di tengah situasi darurat.