Musim kemarau dan keterbatasan air tidak menghentikan sejumlah petani di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lombok Timur untuk terus mengelola lahan mereka. Di tengah keterbatasan tersebut, irigasi tetes mulai digunakan sebagai alternatif untuk mempertahankan kebun sayur dan palawija sekaligus menggunakan air dengan lebih efisien. \n\nSistem yang digunakan relatif sederhana. Air ditampung terlebih dahulu dalam tandon yang ditempatkan lebih tinggi, kemudian dialirkan melalui pipa utama dan selang kecil yang dipasang mengikuti barisan tanaman. Air menetes secara perlahan menuju area akar sehingga kelembapan tanah tetap terjaga tanpa menimbulkan genangan.
Salah seorang petani, Yonk, mengenal pendekatan tersebut setelah mengikuti pelatihan mengenai pertanian lahan kering serta mencari informasi tambahan melalui media sosial. Ia kemudian menerapkannya pada lahan yang digunakan untuk menanam cabai dan tomat. Bagi petani di wilayah yang tidak memiliki dukungan irigasi teknis dan masih menghadapi musim kemarau panjang, penggunaan air secara tepat sasaran menjadi bagian penting dalam mempertahankan produktivitas lahan.
Praktik ini mendapat perhatian dari pemerintah dusun yang melihat irigasi tetes sebagai salah satu alternatif yang dapat diperkenalkan kepada petani lain, khususnya mereka yang mengelola lahan kering. Para petani sendiri melakukan pengadaan peralatan secara swadaya.
Di sisi lain, lahan pertanian tersebut juga menjadi ruang kampanye bagi jurnalis warga perempuan dan kreator konten dari Media Komunitas Speaker Kampung. Mereka mendokumentasikan dan menyebarkan informasi mengenai penggunaan irigasi tetes melalui media sosial dan media alternatif. Dengan cara ini, pengalaman yang tumbuh dari kebun petani dapat menjadi pengetahuan yang menjangkau masyarakat lebih luas.