Jejak Perubahan

Dari Serabut Kelapa Menjadi Jalan Baru: Amri dan Coco Inklusi Merintis Kemandirian di Purbalingga

Di sebuah ruang pelatihan di Purbalingga, Amri Setiyadin duduk di atas tikar sambil memegang serabut kelapa dan bahan sapu. Bagi Amri, seorang difabel netra low vision, bagian yang paling menantang bukan memahami bentuk produk, melainkan menarik dan memasukkan benang dengan tepat. Gerakan yang bagi orang lain tampak sederhana itu membutuhkan waktu, pendampingan, dan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

“Kalau saya kesulitannya ya mungkin cara menarik benangnya. Ya menarik benang, itu doang sih. Lainnya Insya Allah yang bisa dipahami lah,” ujar Amri.

Sedikit demi sedikit, kesulitan itu berubah menjadi keterampilan. Melalui instruksi verbal, praktik langsung, dan materi digital yang dapat dibaca dengan screen reader, Amri dapat mengikuti proses pembuatan sapu dari serabut kelapa bersama peserta lain.

Bagi Yayasan Difapedia Indonesia Inklusi, proses itu membawa pesan yang lebih besar. Limbah serabut kelapa yang banyak ditemukan di Purbalingga dapat menjadi bahan baku ekonomi hijau, sementara penyandang disabilitas yang selama ini menghadapi hambatan masuk ke dunia kerja dapat ditempatkan sebagai pelaku produksi, bukan sekadar penerima bantuan.

Perjalanan tersebut menjadi bagian dari proyek “Peningkatan Ekonomi Penyandang Disabilitas melalui Pengolahan Limbah Serabut Kelapa dalam Upaya Mendukung Gerakan Ekonomi Hijau” yang dijalankan Difapedia di Kabupaten Purbalingga pada 2026 dengan dukungan LOKADANA.

Dua Persoalan yang Dipertemukan

Gagasan program lahir dari dua persoalan yang hidup berdampingan. Di satu sisi, banyak penyandang disabilitas di Purbalingga masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan, pekerjaan, dan modal untuk memulai usaha. Proposal program Difapedia merujuk data Dinas Sosial Kabupaten Purbalingga tahun 2022 yang mencatat sekitar 9.568 penyandang disabilitas di kabupaten tersebut.

Di sisi lain, serabut kelapa tersedia cukup melimpah di sekitar wilayah kerja Difapedia. Sebagian belum dimanfaatkan secara optimal dan bahkan dibakar, sehingga potensinya sebagai bahan baku produk bernilai ekonomi belum sepenuhnya digunakan.

Difapedia kemudian mencoba mempertemukan keduanya. Serabut kelapa dapat diolah menjadi sapu, sikat, cocopeat, cocofiber, cocobristle, hingga berbagai produk turunan lainnya. Namun agar peluang itu benar-benar inklusif, proses belajar dan produksi harus dibangun berdasarkan kebutuhan peserta yang berbeda-beda.

Pelatihan yang Menyesuaikan Peserta, Bukan Sebaliknya

Secara keseluruhan, 13 orang mengikuti rangkaian pelatihan pengolahan serabut kelapa. Delapan di antaranya merupakan penyandang disabilitas dan lima lainnya non-disabilitas. Pelatihan pembuatan sapu diikuti 10 orang, sedangkan pelatihan pembuatan sikat diikuti 6 orang, dengan sebagian peserta mengikuti kedua rangkaian.

Difapedia tidak menggunakan satu metode yang sama untuk semua peserta. Modul pelatihan dibuat dalam format digital yang kompatibel dengan screen reader agar dapat diakses peserta netra dan low vision. Untuk peserta rungu yang tidak menggunakan bahasa isyarat formal, proses pendampingan melibatkan anggota keluarga yang memahami komunikasi sehari-harinya.

Sementara itu, ketika seorang perempuan difabel daksa dan seorang ibu yang memiliki anak difabel tidak dapat mengikuti kegiatan terpusat karena hambatan mobilitas dan jarak, tim menggunakan pendekatan jemput bola. Pelatihan dibawa ke tempat mereka agar kesempatan belajar tidak hilang hanya karena peserta tidak dapat datang ke lokasi.

Pendekatan tersebut menunjukkan satu perubahan penting: aksesibilitas tidak ditempatkan sebagai tambahan setelah kegiatan dirancang, tetapi menjadi bagian dari cara kegiatan dijalankan.

Amri dan Benang yang Tak Lagi Menjadi Penghalang

Bagi Amri, pelatihan gratis ini awalnya menjadi kesempatan untuk mencari pengalaman baru, mengisi waktu secara produktif, dan membuka peluang berpenghasilan. Kondisinya sebagai difabel netra low vision membuat akses terhadap pasar kerja formal maupun informal tidak selalu mudah.

Pada tahap awal, ia sempat canggung ketika harus menarik benang dan menyusun serabut ke bahan sapu. Pendamping kemudian memperbanyak praktik langsung dan memberi instruksi yang dapat ia ikuti tanpa bergantung pada penglihatan penuh.

Yang berubah bukan kondisi penglihatannya, melainkan akses terhadap cara belajar. Ketika metode pelatihan menyesuaikan kebutuhan peserta, keterampilan yang sebelumnya terasa sulit mulai dapat dikuasai.

“Ke depannya, saya berharap Difapedia bisa terus maju dan berkembang, serta kembali menggelar pelatihan kerajinan tangan lainnya seperti pembuatan sikat,” kata Amri.

Harapan Amri juga tidak berhenti pada pelatihan. Ia ingin proses produksi, pengumpulan, dan distribusi produk dapat berjalan sehingga keterampilan tersebut benar-benar terhubung dengan penghasilan.

Dari Keterampilan ke Ruang Produksi

Setelah pelatihan, program bergerak ke tahap praktik produksi. Sebanyak 100 unit sapu dibuat sebagai uji coba dan sampel pasar. Laporan akhir mencatat sampel tersebut memperoleh respons positif dari calon penampung sapu.

Untuk mendukung produksi, Difapedia menyiapkan ruang kerja berukuran sekitar 4,5 x 7 meter di samping sekretariat. Program juga menyediakan satu mesin cocopeat, dua mesin cocobristle, dan satu ayakan manual.

Peralatan itu menjadi fondasi awal untuk membangun Coco Inklusi, wadah pengelolaan produk serabut kelapa yang menghubungkan keterampilan peserta dengan produksi dan pemasaran. Empat orang kemudian disiapkan dalam tim manajemen untuk menangani administrasi, keuangan, persediaan, dan pemasaran.

Pada tahap ini, perubahan yang paling nyata bukanlah pendapatan besar yang langsung tercipta. Yang sudah terbentuk adalah keterampilan, alat produksi, ruang kerja, sampel produk, dan sistem awal yang memungkinkan peserta bergerak dari pelatihan menuju kegiatan ekonomi.

Ketika Pasar Mulai Mengetuk

Tantangan berikutnya adalah memastikan produk tidak berhenti di ruang pelatihan. Tim Coco Inklusi kemudian mendapatkan pelatihan manajemen pemasaran, mulai dari pengemasan, penentuan harga, branding, marketplace, hingga pemanfaatan TikTok Affiliate.

Akun pemasaran digital mulai disiapkan, sementara tim menjajaki pasar untuk sapu, cocopeat, dan cocobristle. Laporan proyek mencatat adanya komunikasi dengan calon pembeli serta penjajakan kerja sama dengan CV Rizky Mandiri untuk kebutuhan ekspor sikat serabut kelapa ke China.

Dalam penjajakan tersebut tercatat permintaan hingga 3.500 unit sikat. Namun tim hanya berani menyanggupi sekitar 1.500 unit karena kapasitas produksi masih berada pada tahap awal. Situasi ini memperlihatkan peluang sekaligus tantangan: pasar mulai terbuka, tetapi kapasitas harus tumbuh dengan ritme yang tetap mempertimbangkan kemampuan para pekerja, termasuk peserta difabel.

Untuk sapu, tim menargetkan pengolahan dua kuintal cocobristle menjadi sekitar 1.500 sapu setengah jadi per bulan untuk disalurkan kepada pengepul. Rencana produksi skala lebih besar juga disiapkan setelah kualitas sampel dan pola kerja semakin stabil.

Ekonomi Hijau yang Tidak Meninggalkan Difabel

Program ini memperlihatkan bahwa ekonomi hijau tidak hanya berbicara tentang bahan ramah lingkungan. Pertanyaan yang sama pentingnya adalah siapa yang mendapat kesempatan untuk terlibat di dalam rantai ekonominya.

Serabut kelapa yang sebelumnya dapat berakhir sebagai limbah kini diperlakukan sebagai bahan baku. Penyandang disabilitas yang sering menghadapi hambatan di pasar kerja dilibatkan dalam proses produksi. Metode pelatihan dibuat lebih aksesibel. Rumah produksi, alat, dan jalur pemasaran mulai disiapkan untuk memastikan keterampilan memiliki tempat untuk tumbuh.

Difapedia juga merencanakan uji coba melibatkan 3–5 penyandang disabilitas sebagai affiliator produk Coco Inklusi di marketplace. Jika berjalan, peluang penghasilan tidak hanya berasal dari proses produksi, tetapi juga dari aktivitas pemasaran digital yang dapat lebih fleksibel terhadap ragam hambatan peserta.

Meski demikian, perjalanan menuju kemandirian ekonomi belum selesai. Pemasaran massal masih dalam tahap persiapan, kapasitas produksi masih perlu diperkuat, dan sistem distribusi harus disesuaikan dengan biaya pengiriman serta kemampuan produksi. Justru karena itu, capaian program perlu dibaca sebagai fondasi yang sedang dibangun, bukan sebagai hasil akhir.

Dari Kesempatan, Tumbuh Kepercayaan Diri

Bagi Amri dan peserta lainnya, perubahan dimulai dari kesempatan untuk mencoba sesuatu yang sebelumnya tidak mereka miliki. Mereka belajar bahwa bahan yang dianggap limbah dapat diolah menjadi produk, dan bahwa keterbatasan tidak harus menjadi alasan untuk dikeluarkan dari proses produksi.

Bagi Difapedia, pengalaman ini juga menjadi pembelajaran bahwa pemberdayaan tidak cukup hanya dengan membuka pelatihan. Kegiatan harus menyediakan akomodasi yang layak, pendampingan yang sesuai, alat produksi, dan jembatan menuju pasar.

Di Purbalingga, seutas benang yang sempat sulit ditarik oleh Amri akhirnya menjadi simbol kecil dari perubahan itu. Bukan karena semua hambatan telah hilang, melainkan karena sistem belajar mulai memberi ruang agar ia dapat mengerjakan sesuatu dengan caranya sendiri.

Dari serabut kelapa yang selama ini kurang dimanfaatkan, Coco Inklusi sedang merintis jalan menuju ekonomi hijau yang lebih inklusif—jalan di mana penyandang disabilitas tidak sekadar hadir sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai pembuat produk, pengelola usaha, dan pelaku ekonomi yang memiliki ruang untuk tumbuh.

Pot Hibah Darurat Lokadana

Dukung OMS dan Komunitas dalam menghadapi krisis mendesak agar layanan penting tetap berjalan.

Informasi Rekening

  • Nama Bank: Mandiri
  • Nomor Rekening: 1660039992888
  • Atas Nama: Yayasan Jejaring Lokadaya Nusantara

 

Setiap kontribusi berarti menjaga komunitas tetap bertahan di tengah situasi darurat.