Tiga bulan sebelumnya, Intan Fujiana Lestari lebih akrab dengan ruang kelas dan lahan kering milik keluarganya daripada dunia jurnalistik. Sebagai guru honorer di Ketangga dan anak dari keluarga petani, kesehariannya dekat dengan persoalan yang dihadapi warga: bagaimana menjaga tanaman tetap hidup ketika air semakin terbatas.
Pada 28 Februari 2026, Intan datang ke kegiatan rekrutmen jurnalis warga perempuan yang digagas Yayasan Speaker Kampung Indonesia. Awalnya ia hadir untuk mendampingi peserta dari lingkungan sekolah. Namun dari pertemuan itu tumbuh ketertarikan baru: menggunakan tulisan, foto, dan video untuk menyampaikan pengalaman petani dan memperkenalkan solusi pertanian yang lebih hemat air.
Perjalanan tersebut menjadi bagian dari proyek “Gerakan Jurnalisme Warga Perempuan dalam Kampanye Ekonomi Hijau pada Pertanian Irigasi Tetes” di Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur. Program ini mempertemukan penguatan kapasitas perempuan, produksi informasi warga, dan pengenalan teknologi irigasi tetes untuk pertanian lahan kering.
Belajar Menulis dari Persoalan yang Dikenal Sehari-hari
Intan memulai dari nol. Dalam cerita dampak yang disusun Speaker Kampung, pengalaman menulisnya sebelumnya lebih banyak berkaitan dengan administrasi mengajar. Ketika mengikuti pelatihan jurnalisme warga pada 22–23 April 2026 di Sembalun, ia mulai belajar dasar-dasar 5W+1H, teknik mengambil foto, membuat video, mengedit, dan mempublikasikan konten di media sosial.
Pelatihan diikuti 18 peserta, terdiri dari 13 perempuan dan 5 laki-laki. Selain teknik jurnalistik, peserta berdiskusi mengenai ekonomi hijau dan praktik irigasi tetes di lahan kering. Grup WhatsApp yang semula menjadi ruang koordinasi kemudian berkembang menjadi tempat saling mengoreksi tulisan, berbagi gagasan liputan, dan bertukar pengalaman.
“Ke depan saya ingin tetap menulis dengan bahasa yang dimengerti ibu-ibu desa, menjadi jembatan antara petani perempuan dan teknologi ramah lingkungan, serta membuat konten ekonomi hijau langsung dari ladang,” demikian harapan Intan yang dicatat dalam cerita dampak program.
Perubahan pada Intan bukan sekadar kemampuan membuat tulisan. Ia dipercaya menjadi koordinator sementara Komunitas Jurnalis Warga Perempuan yang terbentuk pada tahap rekrutmen. Dari posisi itu, Intan ikut mendorong peserta lain untuk terus menulis dan mendokumentasikan praktik pertanian di sekitar mereka.
Dari Pelatihan Menjadi 40 Konten Warga
Setelah pelatihan, para jurnalis warga mulai turun ke lapangan. Mereka mendatangi kebun, merekam praktik petani, memotret instalasi, dan membicarakan persoalan teknis irigasi tetes secara langsung dengan warga.
Laporan akhir program mencatat 40 konten berita dan video telah diproduksi dan disebarkan oleh para jurnalis warga perempuan. Materinya berfokus pada ekonomi hijau dan irigasi tetes, mulai dari cara pemasangan instalasi hingga kendala yang dapat muncul seperti selang tersumbat atau aliran air yang tidak merata.
Konten-konten tersebut tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan. Speaker Kampung mencatat adanya komunikasi dengan petani irigasi tetes di Lombok Utara dan Pulau Sumbawa, serta munculnya ketertarikan petani lain untuk mencoba teknologi yang sama. Beberapa konten juga dikembangkan melalui kolaborasi dengan media lokal dan nasional sehingga jangkauan informasi meluas di luar komunitas peserta.
Ketika Informasi Mendorong Orang Mencoba
Dampak paling konkret terlihat ketika informasi yang diproduksi warga mulai diikuti tindakan di lapangan. Laporan program mencatat sedikitnya lima petani lahan kering mulai menerapkan atau menyiapkan penerapan irigasi tetes setelah rangkaian kampanye dan penyebaran informasi.
Azrul, yang akrab dipanggil Pe Yong, di Dusun Tejong, Desa Ketangga, menjadi salah satu contoh. Ia mulai menerapkan irigasi tetes pada lahan sekitar 5 are, kemudian memperluasnya secara bertahap hingga sekitar 15 are. Dalam proses itu ia masih terus mempelajari persoalan teknis, seperti selang mampet dan distribusi air yang belum merata.
Di Dusun Dasan Bara, Iskandar melihat informasi mengenai irigasi tetes melalui media sosial. Rasa penasaran mendorongnya memesan selang irigasi melalui marketplace dan mencari referensi tambahan di YouTube untuk mempelajari cara merakit instalasinya.
Di wilayah lain, Amaq Rodi di Lendang Belo mulai menyiapkan selang drip untuk lahan kering yang sebelumnya mengandalkan penampungan air hujan. Hudri di Dusun Bru Montor, Desa Suntalangu, juga menyatakan kesediaan menyiapkan lahannya sebagai lokasi demplot. Sopian Hadi, seorang petani kopi penyandang disabilitas di Desa Beririjarak, mengadaptasi gagasan irigasi sederhana menggunakan galon bekas sambil terus berdiskusi mengenai penggunaan selang drip.
Cerita-cerita tersebut menunjukkan bagaimana informasi yang disampaikan dengan bahasa warga dapat bergerak dari layar telepon menuju kebun. Pengetahuan tidak datang hanya dari penyuluh atau lembaga, tetapi juga dari pengalaman petani yang direkam dan disebarkan kembali oleh masyarakat sendiri.
Kampanye yang Berujung pada Komitmen
Pada 9 Mei 2026, Speaker Kampung menggelar kampanye dan demonstrasi irigasi tetes yang dihadiri 28 peserta, terdiri dari 21 perempuan dan 7 laki-laki. Materi visual yang sebelumnya diproduksi para jurnalis warga digunakan kembali untuk menjelaskan cara pemasangan dan perawatan instalasi.
Dari demonstrasi itu muncul komitmen untuk membawa teknologi ke lahan peserta. Kepala Dusun Dasan Bara menyatakan kesiapan wilayahnya menjadi salah satu lokasi percontohan. Di Dusun Monek, Kepala Dusun Rasyid Ridho bahkan menyampaikan gagasan irigasi tetes kepada warga melalui pengeras suara masjid dan mendorong pemanfaatan air PAMDus karena kebutuhan air sistem tetes relatif hemat.
Dukungan juga mulai muncul dari pemerintah. Pemerintah Desa Suntalangu menyatakan komitmen untuk mempertimbangkan penerapan irigasi tetes pada lahan program ketahanan pangan BUMDes. Sementara Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur menyampaikan komitmen untuk memfasilitasi kebutuhan kelompok tani lahan kering terkait sarana irigasi tetes.
Perempuan Bukan Hanya Objek Pemberitaan
Program ini juga mengubah posisi perempuan dalam arus informasi desa. Peserta tidak hanya menjadi sumber cerita mengenai pertanian, tetapi dilatih menjadi orang yang memproduksi dan menyebarkan cerita itu sendiri.
Dalam proses evaluasi pada 29 Mei 2026, peserta meninjau kembali kualitas konten yang masih perlu diperbaiki, termasuk kelengkapan unsur berita dan kekuatan narasi. Mereka juga menyatakan komitmen untuk terus memproduksi konten, baik mengenai ekonomi hijau maupun isu sosial lainnya.
Speaker Kampung mencatat bahwa setelah pelatihan, jurnalis warga perempuan juga mulai membuat konten mengenai sampah dan isu kelompok rentan. Artinya, kemampuan jurnalistik yang tumbuh tidak hanya dipakai untuk satu kampanye, tetapi mulai menjadi perangkat bagi warga untuk berbicara mengenai persoalan di sekitar mereka.
Dari Jurnalisme Warga Menuju Jurnalisme Solusi
Bagi Speaker Kampung, keberlanjutan program tidak hanya diukur dari jumlah konten yang telah terbit. Organisasi ini ingin mendorong komunitas jurnalis warga perempuan menuju pendekatan jurnalisme solusi: tidak berhenti pada menceritakan persoalan, tetapi juga mencatat respons, ide, praktik yang bekerja, dan pelajaran yang dapat diterapkan oleh warga lain.
Rencana tersebut akan dilanjutkan melalui kolaborasi dengan pihak-pihak lain dalam isu ekonomi hijau serta pendampingan kepada komunitas jurnalis warga. Komitmen dari pemerintah desa dan Dinas Pertanian menjadi peluang untuk memperluas penerapan irigasi tetes, sementara komunitas perempuan menjadi saluran informasi yang tetap hidup setelah rangkaian kegiatan selesai.
Bagi Intan, perubahan itu berawal dari sebuah kesempatan untuk mencoba. Dari seseorang yang belum pernah menulis berita, ia kini memiliki ruang untuk menyuarakan pengalaman petani, mengajak perempuan lain mendokumentasikan perubahan, dan mempertemukan teknologi sederhana dengan mereka yang paling membutuhkan.
Di lahan kering Suela, tetesan air memang kecil. Namun ketika pengetahuan tentangnya bergerak dari satu warga ke warga lain, dari unggahan media sosial ke kebun, dan dari cerita perempuan ke keputusan petani, perubahan dapat tumbuh lebih jauh daripada satu demplot. Di situlah jurnalisme warga menemukan perannya: membantu solusi lokal terlihat, dipahami, dan dicoba.