Setelah melalui seluruh rangkaian seleksi Hibah Mikro LOKADANA Siklus I, komite hibah bersama sekretariat dan tim pendukung kembali berkumpul untuk merefleksikan proses yang telah dijalani. Pertemuan ini menjadi ruang untuk membaca ulang pengalaman bersama: apa yang sudah berjalan baik, apa yang masih menjadi ganjalan, dan apa yang perlu diperbaiki agar hibah partisipatif ke depan semakin kuat.
Dari refleksi yang muncul, satu hal terasa sangat kuat: siklus pertama ini membuktikan bahwa kerja kolektif tetap mungkin dibangun, bahkan ketika orang-orang yang terlibat datang dari berbagai daerah, memiliki kesibukan masing-masing, dan sebagian besar tidak pernah bertemu secara langsung. Para anggota komite tetap membaca proposal, berdiskusi, membagi waktu, dan mengambil keputusan bersama dengan semangat saling percaya. Bagi banyak peserta, ini menjadi pengalaman penting bahwa hibah partisipatif dapat berjalan bukan hanya karena prosedur, tetapi karena komitmen bersama.
Refleksi juga menegaskan bahwa kekuatan terbesar proses ini ada pada kerelaan untuk mendukung sesama organisasi masyarakat sipil. Para anggota komite memilih untuk menunda kepentingannya sendiri, menyediakan waktu di tengah kesibukan, dan menilai setiap proposal dengan sungguh-sungguh. Pada saat yang sama, mereka juga belajar banyak dari proses tersebut. Membaca proposal orang lain membuat mereka lebih memahami bagaimana sebuah usulan yang kuat disusun, bagaimana masalah dirumuskan, dan bagaimana anggaran mencerminkan kesiapan organisasi. Proses seleksi pun menjadi ruang belajar, bukan hanya bagi pengusul, tetapi juga bagi para penilai.
Namun, refleksi ini juga memperlihatkan bagian yang paling berat dari siklus pertama: kebutuhan yang sangat besar berhadapan dengan daya dukung yang masih terbatas. Proposal yang masuk banyak, ide-idenya kuat, dan banyak di antaranya lahir dari kebutuhan nyata di tingkat lokal. Tetapi dukungan yang tersedia belum mampu menjangkau semuanya. Bagi komite hibah, pengalaman memilih di antara sesama organisasi yang sama-sama layak ini menjadi bagian yang paling tidak mudah.
Karena itu, sejumlah pembelajaran penting muncul untuk perbaikan ke depan. Di antaranya adalah perlunya panduan penilaian yang lebih rinci, dukungan coaching untuk penulisan proposal, tim cadangan jika jumlah proposal kembali sangat besar, serta komunikasi yang lebih jelas setelah proses seleksi selesai. Beberapa peserta juga menekankan pentingnya agar pembelajaran dari proposal-proposal yang belum lolos tidak hilang begitu saja, tetapi menjadi bagian dari penguatan kapasitas bersama.
Refleksi ini akhirnya membawa satu kesadaran yang lebih besar: LOKADANA tidak cukup hanya menjadi ruang distribusi dana, tetapi juga perlu terus tumbuh sebagai ruang gotong royong untuk membangun sumber daya bersama. Di tengah keterbatasan, para anggota komite justru menemukan hal yang paling penting untuk dibawa ke depan, yaitu bahwa harapan masih ada. Dan harapan itu tumbuh ketika kerja bersama dirawat dengan sungguh-sungguh.