Jejaring Lokadaya meluncurkan LOKADANA, platform hibah partisipatif yang dirancang sederhana, fleksibel, dan berangkat dari kebutuhan komunitas. Peluncuran ini sekaligus menandai dibukanya Panggilan Hibah Mikro Siklus Idan diikuti oleh sekitar 240 perwakilan organisasi masyarakat sipil dari 38 provinsi.
Peluncuran LOKADANA juga dirangkaikan dengan diskusi publik bertajuk “Hibah Itu Mestinya Menguatkan dan Memberdayakan” yang menghadirkan Tino Yosepyn dari Lokadaya, Adam Kurniawan dari Balang Institute, serta Nurul Saadah dari SAPDA Yogyakarta. Diskusi membahas tantangan pendanaan masyarakat sipil, keberlanjutan organisasi, serta kebutuhan untuk membangun sumber daya yang lebih dekat dengan komunitas.
Pendanaan Menjadi Tantangan bagi Organisasi Akar Rumput
Dalam diskusi, Nurul Saadah menyoroti semakin sulitnya organisasi kecil berbasis komunitas memperoleh dukungan pendanaan. Menurutnya, sebagian pendanaan internasional kini lebih banyak disalurkan melalui lembaga besar atau kontraktor internasional, sementara organisasi lokal menghadapi berbagai hambatan administratif.
Artikel InfoSAWIT juga mengutip Survei Planet Indonesia 2025 yang menyebut 75 persen organisasi masyarakat sipil kesulitan mengakses dana untuk biaya operasional, sedangkan 57 persen menghadapi persyaratan administratif yang berlapis. Situasi ini dinilai dapat mempersempit ruang organisasi akar rumput dalam menentukan strategi berdasarkan kebutuhan masyarakat yang mereka dampingi.
Adam Kurniawan dari Balang Institute, dalam forum yang sama, mengaitkan persoalan pendanaan tersebut dengan kondisi ruang sipil di Indonesia. Ia menilai terdapat sejumlah tantangan terhadap partisipasi warga dan kebebasan sipil. Artikel sumber juga merujuk laporan BTI 2024, Freedom House, dan V-Dem 2025 sebagai konteks atas pandangan tersebut.
“Arisan Masyarakat Sipil” sebagai Model Solidaritas
Di tengah tantangan tersebut, LOKADANA menawarkan pendekatan pendanaan yang bertumpu pada solidaritas dan gotong royong.
Tino Yosepyn menggambarkan mekanisme ini sebagai “arisan masyarakat sipil”, yakni ruang bagi organisasi, komunitas, maupun individu untuk saling berbagi dan menopang keberlanjutan kerja masyarakat sipil.
Pendekatan ini menempatkan komunitas di pusat proses pengambilan keputusan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Mekanismenya juga dirancang lebih sederhana agar sumber daya dapat menjangkau kebutuhan nyata di tingkat lokal.
Pada saat peluncuran, LOKADANA berhasil menghimpun sekitar Rp36 juta yang dialokasikan untuk mendukung hibah darurat. Penghimpunan tersebut menjadi salah satu langkah awal untuk menunjukkan bagaimana sumber daya dapat dikembangkan dari solidaritas di dalam jejaring masyarakat sipil sendiri.
Membuka Dukungan bagi Komunitas Akar Rumput
Melalui Panggilan Hibah Mikro Siklus I, LOKADANA membuka dukungan langsung bagi komunitas, kelompok perempuan, pemuda, dan berbagai inisiatif akar rumput.
Skema tersebut dirancang dengan proses yang tidak terlalu birokratis agar organisasi berbasis komunitas memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh dukungan. Selain pendanaan, proses hibah juga diposisikan sebagai ruang belajar bersama untuk mengembangkan praktik baik dan solidaritas lintas komunitas.
Bagi Ilham Majid dari Sophia Nusantara, Merauke, Papua Selatan, hadirnya LOKADANA memberikan peluang bagi organisasi masyarakat sipil untuk menjalankan agenda berdasarkan kebutuhan dan konteks lokal mereka sendiri, tanpa sepenuhnya bergantung pada mekanisme pendanaan dari luar daerah.
Perspektif tersebut menunjukkan pentingnya skema yang memberi ruang bagi organisasi lokal untuk menentukan prioritas secara mandiri. Dukungan pendanaan tidak hanya diperlukan untuk membiayai kegiatan, tetapi juga untuk menjaga kemampuan komunitas dalam merancang dan menjalankan agenda perubahan berdasarkan persoalan yang mereka hadapi langsung.
Menguatkan Sumber Daya dari Dalam Jejaring
Pada saat LOKADANA diluncurkan, Jejaring Lokadaya terdiri dari 408 organisasi di 38 provinsi. Jejaring ini berdiri pada 24 Maret 2021, dirintis oleh 62 organisasi, dan berfokus pada upaya menggalang, berbagi, serta mengelola sumber daya domestik untuk mendukung keberlanjutan organisasi masyarakat sipil.
Pengembangan LOKADANA juga mendapat dukungan dari CO-EVOLVE 2, program yang didukung Uni Eropa untuk memperkuat kapasitas dan ketahanan organisasi masyarakat sipil dalam menghadapi perubahan lingkungan kerja mereka.
Melalui LOKADANA, semangat membangun sumber daya domestik diterjemahkan menjadi mekanisme yang lebih konkret. Masyarakat sipil tidak hanya ditempatkan sebagai penerima pendanaan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang ikut menghimpun, menentukan, dan mengelola sumber daya.
Pendekatan ini membuka kemungkinan agar keberlanjutan gerakan tidak hanya bergantung pada dukungan dari luar, tetapi juga tumbuh dari solidaritas, partisipasi, dan kemampuan komunitas untuk saling menopang.
Sumber : InfoSawit