Jejaring Lokadaya meluncurkan LOKADANA, sebuah platform hibah partisipatif yang dikembangkan untuk memperkuat kemandirian dan keberlanjutan organisasi masyarakat sipil di Indonesia. Peluncuran tersebut sekaligus ditandai dengan dibukanya Panggilan Hibah Mikro Siklus I.
Kegiatan yang diselenggarakan secara daring ini diikuti 240 perwakilan organisasi dari 38 provinsi. Selain memperkenalkan mekanisme LOKADANA, peluncuran juga menghadirkan diskusi bertajuk “Hibah Itu Mestinya Menguatkan dan Memberdayakan” bersama perwakilan Lokadaya, Balang Institute, dan SAPDA Yogyakarta.
LOKADANA dirancang sebagai mekanisme pendanaan yang sederhana, fleksibel, dan berangkat dari kebutuhan komunitas. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas akses terhadap sumber daya, terutama bagi kelompok dan organisasi masyarakat sipil yang selama ini menghadapi hambatan dalam menjangkau skema pendanaan berskala besar.
Gotong Royong untuk Memperkuat Gerakan
Salah satu semangat yang dibawa LOKADANA adalah membangun pendanaan melalui gotong royong masyarakat sipil.
Tino Yosepyn dari Lokadaya menggambarkan mekanisme tersebut sebagai “arisan masyarakat sipil”, di mana organisasi maupun individu dapat berkontribusi dan saling menopang untuk membangun kekuatan bersama.
Pendekatan ini menempatkan sumber daya bukan hanya sebagai bantuan yang datang dari luar, tetapi juga sebagai sesuatu yang dapat dihimpun dan dikelola secara kolektif oleh masyarakat sipil sendiri.
Pada peluncuran perdananya, LOKADANA berhasil menghimpun Rp36 juta. Dana tersebut diarahkan untuk hibah darurat dan dikelola secara kolektif dengan fokus pada komunitas, kelompok perempuan, pemuda, serta berbagai inisiatif akar rumput.
Membuka Akses bagi Organisasi Berbasis Komunitas
Persoalan akses terhadap pendanaan turut menjadi perhatian dalam peluncuran LOKADANA.
Nurul Saadah dari SAPDA Yogyakarta menyoroti kondisi organisasi masyarakat sipil berbasis komunitas yang sering menghadapi kesulitan mengakses pendanaan besar karena persyaratan administratif yang berlapis. Menurutnya, diperlukan ruang baru agar sumber daya dapat lebih mudah menjangkau kelompok yang memang membutuhkan dukungan.
Situasi tersebut menjadi salah satu alasan penting untuk mengembangkan skema hibah yang lebih adaptif. Bagi kelompok yang bekerja langsung bersama masyarakat, kebutuhan terhadap sumber daya tidak selalu dapat dijawab melalui mekanisme pendanaan yang seragam.
LOKADANA mencoba menghadirkan alternatif dengan memberikan perhatian pada kesederhanaan proses serta kebutuhan nyata komunitas.
Mencari Model Kemandirian Baru
Selain persoalan administratif, perubahan lanskap pendanaan global juga menghadirkan tantangan bagi keberlanjutan gerakan masyarakat sipil.
Adam Kurniawan dari Balang Institute menyoroti menyempitnya ruang sipil dan berkurangnya dukungan donor global sebagai kondisi yang mendorong masyarakat sipil untuk mulai mencari model kemandirian baru.
Dalam konteks tersebut, LOKADANA dikembangkan bukan semata-mata untuk menyediakan hibah, melainkan untuk memperbesar kemampuan masyarakat sipil dalam membangun, mengelola, dan mengarahkan sumber dayanya sendiri.
Kemandirian pendanaan menjadi penting karena berhubungan dengan kemampuan organisasi dalam menentukan agenda berdasarkan persoalan yang dihadapi komunitas, sekaligus menjaga keberlanjutan kerja dalam jangka panjang.
Memperkuat Sumber Daya dari Dalam Jejaring
Pada saat LOKADANA diluncurkan, Jejaring Lokadaya menaungi 408 organisasi yang tersebar di 38 provinsi. Jejaring ini berdiri pada 24 Maret 2021 dan dirintis oleh 62 organisasi.
Sejak awal, Lokadaya membawa semangat untuk menggalang, berbagi, dan mengelola sumber daya domestik guna mendukung keberlanjutan organisasi masyarakat sipil serta memperkuat perannya dalam pembangunan yang inklusif.
LOKADANA kemudian menjadi salah satu bentuk konkret dari semangat tersebut. Melalui mekanisme hibah partisipatif, kekuatan jejaring diarahkan untuk membuka akses sumber daya yang lebih luas sekaligus menumbuhkan solidaritas antarorganisasi dan komunitas.
Kehadiran LOKADANA menunjukkan bahwa upaya menjaga keberlanjutan gerakan tidak harus selalu berangkat dari besarnya sumber daya yang tersedia. Kekuatan juga dapat tumbuh dari kemampuan masyarakat sipil untuk saling berbagi, membangun solidaritas, dan mengelola sumber daya secara bersama-sama.
Sumber : Ecobiz